Minggu, 08 Januari 2012

Buku Pelayanan Pastoral bagi OMK


KATA PENGANTAR
Komisi Kepemudaan Keuskuapan Agung Makassar (Komkep KAMS) merupakan Komisi yang dibentuk untuk  memberikan pelayanan pastoral bagi OMK dalam wilayah Keuskupan Agung Makassar. Komkep Kams  juga adalah bagian dari Komisi Kepemudaan KWI. Oleh karena itu arah pelayanan dan program dari Komisi Kepemudaan KAMS sesuai dan searah dari visi pastoral dan program  yang telah dibuat dan diprogramkan  Komisi Kepemudan KWI. Untuk visi pastoral Pendampingan OMK, Komkep Kams berpedoman pada Buku Pedoman Pastoral Karya Orang Muda (PPKM) yang diterbitkan Komkep KWI.

Setelah rapat   pleno dari Komisi Kepemudaan KWI yang dihadiri oleh seluruh KOMKEP dari seluruh Indonesia, disepakati bersama untuk melaksanakan  4 program  yang  akan ditindaklanjuti di seluruh Indonesia sejak tahun 2011 baik di tingkat regional  maupun di Keuskupan masing masing. Adapun ke empat program  itu adalah:
1. Pelatihan Pendidikan Nilai
2. Pelatihan Training For Trainers (TFT)
3. Pelatihan Pendidikan Politik
4. Pelatihan Kewirausahaan OMK

Untuk melaksankan  dan menindaklanjuti program tersebut,  Komkep KAMS sesuai dengan sumber daya dan  sumber  dana  yang ada serta adanya kebutuhan dari lapangan, mengadakan salah satu dari program itu, yaitu  Pelatihan Training for Trainers (TFT) dimana yang menjadi sasaran dari program pelatihan ini adalah Seksi Kepemudaan Paroki (SKP) dan Para Pendamping  OMK atau mungkin juga calon pendamping OMK. Bahan dan materi yang disajikan selama pelatihan berasal dari: Buku PPKM, pengalaman dalam memberi Training,  bahan yang disharingkan dari Trainers Komkep dari Keuskupan lain dan sumber sumber yang ada di Komkep KWI.

Pelayanan pastoral bagi OMK telah  dilaksanakan   oleh Komkep Kams bersama  Tim,  yang terdiri atas 4 orang. Tim ini  telah bekerja bersama-sama untuk memberikan pelayanan bagi OMK diwilayah Keuskupan Makassar sejak tahun 2008 sampai sekarang. Masing masing dengan latar belakang berbeda dan pengalaman berbeda  secara sukarela bersedia memberikan pikiran,  waktu, tenaga untuk melayani OMK . Ke 4 Tim kepemudaan KAMs yaitu:
1. P. Yulius Malli, Pr
2. Henny Maria Anastasia, S.Pd
3. Joanna Fredericka Manurip, A.Md
4. Thonny Iwan, S.Si
Besar harapan kami, pelatihan dan materi yang disajikan dan terlebih sharing dari peserta yang hadir  semakin memperkarya pengetahuan, ketrampilan, motivasi dan spitiualitas kita untuk memberi apa yang terbaik bagi OMK di tempat kita masing masing.





I.                    ORANG MUDA KATOLIK (OMK)

Yang dimaksud dengan OMK  menurut Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda (PKPKM)  yang dikeluarkan Komisi Kepemudaan KWI adalah mereka yang berusia 13 s.d. 35 tahun dan belum menikah, sambil tetap memperhatikan situasi dan kebiasaan masing-masing daerah. OMK   mencakup jenjang usia remaja, taruna dan pemuda. 

Kaum muda (youth, bhs. Ing) adalah kata kolektif untuk orang yang berada pada rentang umur 11-25 tahun37. Sedangkan Komisi Kepemudaan mengambil batas 13-35 tahun. Rentang umur ini merujuk pada buku “Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda dan Keputusan Badan Koordinasi Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda No. 01/BK tahun 1982 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda” yang dikeluarkan oleh Kantor Menpora tahun 1985.

Rentang umur tersebut menunjukkan bahwa kaum muda terdiri atas usia remaja sampai dengan dewasa awal. Rentang umur tersebut dikategorisasi lebih rinci demi efektivitas pendampingan . Kategorisasi tersebut sebagai berikut:
          1. Kelompok usia remaja (13 - 15 tahun)
          2. Kelompok usia taruna (16 - 19 tahun)
          3. Kelompok usia madya (20 - 24 tahun)
          4. Kelompok usia karya  (25 - 35 tahun)

Dalam pendampingan OMK harus  dipandang sebagai pribadi yang sedang berkembang.  Mereka memiliki ciri khas dan keunikan yang tak tergantikan, kualitas, bakat  dan minat yang perlu dihargai. Mereka mempunyai perasaan, pola pikir, tata nilai dan pengalaman tertentu, serta masalah dan kebutuhan yang perlu dipahami. Mereka memiliki hak dan kewajiban, tanggung jawab dan peran tersendiri yang perlu diberi tempat. Semua itu merupakan potensi untuk dikembangkan dalam proses pembinaan, sehingga kaum muda dapat berperan aktif-positif dalam kehidupan Keluarga, Gereja dan Masyarakatnya. 

Hendaknya OMK diberi kemungkinan, kesempatan, kepercayaan dan tanggung jawab sebagai subyek dan pelaku utama proses bina diri dan saling bina. Mereka bukan lagi bejana kosong yang perlu diisi atau lilin yang harus dibentuk menurut selera para pembina. Dengan demikian, segala bentuk pembinaan yang sifatnya menggiring, mendikte, mengobyekkan dan memperalat kaum muda demi suatu kepentingan di luar perkembangan diri mereka dan peran serta tersebut di atas haruslah  dihindari dan dihilangkan. Hakekat pembinaan kaum muda, sebagai karya pastoral, adalah pelayanan dan pendampingan.

Secara teritorial  OMK, sebagai umat muda  dalam suatu paroki adalah OMK  paroki 22, walaupun mereka  dapat juga menjadi anggota pelbagai wadah/kelompok/organisasi/gerakan kategorial sesuai minat, bakat dan keinginan mereka. Dengan demikian,   dimanapun mereka aktif dan melibatkan diri, bahkan juga bila sama sekali belum aktif, secara teritorial merupakan warga paroki setempat dengan OMK paroki sebagai “home base” (pangkalan induk) mereka23. Oleh karena itu, OMK haruslah menjadi basis pembinaan serta sumber inspirasi dan motivasi untuk keterlibatan dalam berbagai wadah/ kelompok/organisasi/gerakan kategorial, baik intern maupun ekstern gerejawi. Apabila konsep akomodatif OMK ini dipahami, maka pelbagai wadah/kelompok/organisasi/gerakan kaum muda katolik dalam berbagai tingkatan tidak perlu saling menganggap sebagai pesaing apalagi ancaman, melainkan justru sebagai kekayaan dan kekuatan OMK.

II.                  SEKSI KEPEMUDAAN PAROKI (SKP)
Seksi Kepemudaan Paroki adalah bagian dari Dewan Pastoral Paroki yang bertanggungjawab untuk memberikan pelayanan pastoral OMK di Paroki. Ketua SKP adalah Pengurus Inti Dewan Pastoral Paroki.  SKP adalah media antara OMK dengan Depas. Program-program dan usul usul dari OMK yang hendak disampaikan kepada Paroki disalurkan melalui SKP.  SKP mempunyai wewenang untuk membentuk kepengurusan OMK paroki. OMK Paroki  bertanggungjawab kepada SKP paroki.
Seksi Kepemudaan Paroki bertugas dan bertanggung jawab untuk:
  1. Memikirkan dan mengkoordinir kegiatan karya pastoral OMK baik di jalur teritorial (stasi, wilayah, lingkungan) maupun kategorial dalam Paroki.
  2. Mengusahakan adanya pendamping dan penggerak kelompok serta peningkatan mutu para pendamping di tingkat teritorial  maupun kategorial dalam Paroki.
  3. Mengupayakan kesinambungan pembinaan kaum muda di Paroki dalam hal kesatuan visi dan program serta tenaga yang diperlukan.
  4. Mengusahakan sarana dan dana yang menunjang kelancaran pembinaan kaum muda di Paroki.
  5. Menjadi penghubung antara Paroki dengan Tim Kepemudaan di tingkat Kevikepan/ Dekenat dan Komisi Kepemudaan Keuskupan.

III.                PENDAMPING  OMK

Pengertian
Yang dimaksud dengan pendamping  adalah pembimbing yang dipilih dan diberi kepercayaan, wewenang, tanggung jawab dan tugas untuk mendampingi/membimbing kelompok serta memandu kegiatannya secara tetap selama waktu yang telah ditentukan

Jenis Jenis Pendamping:
  1. Pendamping Tetap: Yaitu pendamping terus-menerus mendampingi OMK dan  berupaya semakin mahir dalam pendekatan dan metode-metode pembinaan kaum muda. 
  2. Pendamping Tidak Tetap: yaitu pendamping atau narasumber yang sekali-sekali mengisi kegiatan OMK
  3. Pemerhati OMK: yaitu pihak  yang senantiasa mendukung berbagai program kegiatan dan pendamping kaum muda dengan pelbagai cara.

Syarat-syarat Pendamping OMK:
  1. Berkepribadian matang dan menarik, bersikap terbuka dan dapat bekerja sama
  2. Memiliki suara hati yang jernih, penghayatan iman serta hidup rohani yang  baik 
  3. Mempunnyai visi, hati, minat dan bakat dasar sebagai pembina dengan fungsi tersebut di atas 
  4. Bersedia dengan sukarela meluangkan waktu dan memberikan diri bagi tugas pelayanan kaum muda yang dipercayakan oleh Gereja kepadanya.

Pengangkatan Pendamping:
Para pendamping OMK di paroki sebaiknya dipilih dan diusulkan oleh kelompok OMK untuk ditetapkan oleh Pastor/ Dewan Paroki dengan masa bakti terbatas yang dapat diperpanjang.

Posisi dan Fungsi Pendamping:
 
a.       Sebagai SAHABAT 

1.      Ia menempatkan diri bukan di atas (sebagai atasan dan bos), melainkan  di antara para anggota kelompok.
2.      Ia berada bersama mereka, memperhatikan mereka secara pribadi, tetapi tetap tahu membatasi diri di mana perlu.
3.      Ia bergaul dengan mereka dan menyelami dunia mereka, tetapi tidak ikut-ikutan bertingkah laku seperti mereka.
4.      Ia mengenal mereka, mengerti gejolak mereka, tetapi tidak boleh memanfaatkan dan memperalat mereka.
5.      Ia menghargai dan menerima mereka sebagaimana adanya, tetapi sekaligus tahu ‘menuntut’ mereka untuk bergerak maju dan tidak membiarkan sikap  mudah menyerah.
6.      Ia berusaha memahami kebutuhan riil mereka, tetapi tidak begitu saja mengikuti keinginan mereka.

b.      Sebagai PENDAMPING:
  1. Ia  menempatkan diri bukan di tengah (untuk menjadi pusat perhatian) melainkan di samping kelompoknya.
  2. Ia berjalan bersama dan di samping mereka, sebagai teman seperjalanan dan rekan sepenanggungan, tetapi tidak menggiring mereka ke arah yang disukainya sendiri.
  3. Ia memungkinkan terciptanya komunikasi dan interaksi yang mengarah dan berpusat pada kelompok, bukan pada dirinya sendiri.
  4. Ia merangkul dan mempersatukan mereka, mendamaikan perselisihan, tetapi tanpa niat menonjolkan diri, peran dan kepentingannya.
  5. Ia berani bersikap tegas, mengoreksi dan mengarahkan mereka, tetapi tidak memaksakan dan mendikte mereka dengan pendapatnya.
  6. Ia punya prinsip dan berpegang teguh pada prinsip, tetapi bersikap luwes dan tidak kaku dalam cara penerapannya.
  7. Ia membimbing dan membantu mereka menghadapi masalah dan kendala, tetapi tidak memanjakan dan mengambil alih tanggung jawab mereka.

c.  Sebagai PENDORONG
  1. Ia tidak menempatkan diri di depan (sebagai pemuka dan orang penting) melainkan di belakang.
  2. Di saat-saat sulit dan genting, ia mungkin harus tampil mengambil prakarsa awal, tetapi lalu harus lebih banyak memberi kepercayaan dan kesempatan kepada kelompok untuk meneruskannya dan bahkan menemukan jalannya sendiri.
  3. Dengan kreativitasnya, ia merangsang kelompok menjadi kreatif dan inovatif, bukannya membungkam kreativitas mereka dan membiarkan mereka menjadi sekedar pengikut dan pengekor.
  4. Dengan kelebihan dalam pengalaman, keluasan dalam pandangan dan keunggulan dalam keteladanan, ia menggerakkan mereka untuk maju, meraih prestasi kelompok, dan semakin mandiri, bukannya menciptakan ketergantungan kelompok pada pembina.
  5. Dengan kesungguhan dan sikap wajar, ia memuji mereka untuk suatu prestasi sekecil apapun, juga untuk hal-hal yang belum sempurna; bukannya serba mencela dan mempersalahkan mereka.
  6. Ia harus menampilkan kelompok ke depan dan ‘ke atas panggung’, bukannya menampilkan dan menonjolkan dirinya sendiri; ia tahu kapan harus menarik diri ‘ke belakang panggung’. (bdk. Mk. 2:1-5 dan Yoh 3:30).

d.  Sebagai PEMANDU:
  1. Dalam proses kegiatan bina kelompok, seorang pembina tidak menempatkan diri sebagai guru yang mengajari, melainkan sebagai fasilitator yang menciptakan iklim partisipatif dan suportif, dalam mana setiap peserta bebas dan berani mengungkapkan diri, mengutarakan pendapat, mengemukakan tanggapan.
  2. Ia mempersiapkan diri tidak dengan bekal ‘jawaban yang tepat’, melainkan dengan ‘pertanyaan yang tepat’ dan metode yang tepat.
  3. Ia tidak memaksakan hasil akhir (yang sering sudah disiapkan), melainkan menumbuhkan sikap kritis dan menemukan sendiri.
  4. Ia mengarahkan pembicaraan pada relnya, mencegah penyimpangan, tetapi tidak menggiring mereka ke arah rumusan-rumusan yang dikehendakinya atau menurut seleranya sendiri.
  5. Ia tidak mempersalahkan peserta atas jawaban yang belum sempurna, melainkan mendorong mereka untuk mencari yang lebih sempurna.
  6. Ia tidak tergesa-gesa memberi jawaban atas setiap pertanyaan, melainkan memberi kesempatan kepada kelompok untuk saling menolong dan saling menanggapi.
  7. Ia memberi kesempatan yang sama dan merata kepada setiap anggota kelompok, memberanikan si ‘rendah diri’ untuk bicara, dan tidak tergoda untuk pilih kasih dan menonjolkan ‘si pintar’.
  8. Ia menyimpulkan pendapat kelompok secara tepat dan meyakinkan, menambahkan dan menyempurnakan di mana perlu, meluruskan       dan mengoreksi pendapat yang keliru dan menyimpang.
IV.               PENGURUS OMK
Yang dimaksud dengan pengurus OMK adalah pengurus yang dipilih untuk menjalankan kepengurusan omk yang umumnya terdiri atas: Ketua, Sekretaris dan Bendahara dalam jangka waktu tertentu.
Adapun tugas dari pengurus OMK adalah:
  1. Menjalankan seluruh fungsi teknis-organisatoris dalam kelompok, misalnya: mengundang rapat, memimpin rapat, melaksanakan keputusan rapat, melancarkan jalannya setiap kegiatan dan program kelompok.
  2. Menggiatkan, menyemangati dan menggerakkan partisipasi kelompok dalam setiap kegiatan dan pembinaan secara optimal.
  3. Menyerap dan menampung setiap masalah dan aspirasi anggota kelompok untuk kemudian disalurkan secara benar, tepat dan bijaksana.
  4. Menjalin kebersamaan dan kerjasama dengan kelompok/organisasi/instansi lain, terutama yang punya kaitan dengan program kelompok.
  5. Menyusun program kerja (tahunan, tengah tahunan) yang menjawabi masalah dan kebutuhan kelompok, melaksanakannya dan mengevaluasinya

V.                 VISI, DASAR SERTA TUJUAN KEGIATAN OMK
VISI DASAR

OMK yang sepenuh-penuhnya setia kepada Yesus Kristus dan seutuh- utuhnya berjiwa Pancasila sehingga mampu  mengembang panggilan Kristiani dan tugas kebangsaan  dalam hidup menggereja, bermasyarakat dan bernegara.

LANDASAN

Dengan demikian, kegiatan OMK sebagai karya pastoral, berlandaskan iman Katolik dan Pancasila.
Berlandaskan iman Katolik berarti menempatkan iman Katolik sebagai pusat dan dasar, serta sumber motivasi dan inspirasi dalam seluruh karya pelayanan pastoral  OMK. OMK diarahkan pada penghayatan iman sebagai hubungan pribadi dengan Allah, yang diungkapkan dalam kesatuan dengan iman Gerejawi yang satu dan rasuli, serta diwujudkan lewat kesaksian hidup di tengah masyarakat.

Berlandaskan Pancasila berarti menjadikan Pancasila sebagai azas karya pembinaan yang mengarahkan kaum muda untuk memahami, menghayati, mengamalkan, membela dan mem- pertahankan, serta mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagaimana dirumuskan dan terkandung di dalam Pancasila.

TUJUAN DAN SASARAN

Tujuan kegiatan OMK adalah berkembangnya diri OMK sebagai manusia dan sebagai orang Katolik Indonesia yang tangguh, tanggap, dan terlibat dalam hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sasaran Kegiatan OMK

Kualitas OMK  yang ingin dicapai sebagai sasaran kegiatan OMK:
1.      Berkepribadian kuat dan memiliki keyakinan diri yang kokoh, suara hati yang jernih, kebebasan dan tanggung jawab pribadi yang berdaya cipta dan membangun, serta kemauan untuk belajar terus-menerus.
2.      Beriman teguh dan tangguh dalam hidup berdampingan, berdialog dan berintegrasi dengan sesama warganegara yang berkeyakinan lain.
3.      Memiliki kepekaan dan kepedulian sosial, serta solidaritas terhadap sesama, khususnya yang lemah dan menderita serta keberanian menyuarakan kebenaran, keadilan, keyakinan berdasarkan nilai, suara hati dan kesejahteraan umum.
4.      Memiliki semangat berorganisasi yang didukung oleh jiwa kepemimpinan dan kepeloporan.
5.      Memiliki profesionalitas  untuk terlibat serta berperan aktif dalam hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


VI.               LANGKAH-LANGKAH MENGELOLAH KEGIATAN

Mengelola kegiatan orang muda saat ini seharusnya memperhatikan kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi sejalan dengan pola pengelolaan program modern yang sudah banyak diterapkan pada sektor pemerintahan/badan pelayanan publik, perusahaan/sektor bisnis, dan organisasi non-pemerintah (Ornop) atau organisasi nir-laba. Istilah kunci yang sering dijadikan prinsip pengelolaan program kegiatan tersebut adalah pengelolaan program berbasis kebutuhan dan masalah (needs and problems based program management).
Untuk itu, perlu kegiatan orang muda dikelolah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
§  Pertama, mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan orang muda.
  • Kedua, merumuskan tujuan dan target kegiatan yang jelas (memenuhi kebutuhan atau memecahkan permasalahan pada langkah pertama). Perumusan tujuan dan target ini bisa dilengkapi dengan perumusan indikator atau tolok ukur keberhasilan, sebagai panduan langkah berikutnya dan pedoman evaluasi.
  • Ketiga, memilih kelompok sasaran yang tepat dan diprioritaskan, jika suatu kegiatan sejak awal ditujukan bukan untuk diikuti seluruh orang muda secara umum/massal (sesuai rumusan identifikasi kebutuhan dan masalah pada langkah pertama, serta tujuan, target, dan indikator keberhasilan pada langkah kedua).
  • Keempat, memilih bentuk dan metode kegiatan yang tepat (mampu memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah dan mampu menciptakan situasi tercapainya tujuan dan target berdasarkan indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan secara jelas pada kelompok sasaran yang spesifik).
  • Kelima, mengelola tenaga yang melaksanakan kegiatan (mencari orang yang setuju dan paham pada kebutuhan/permasalahan yang mendasari kegiatan, tujuan dan target serta metode yang dipilih, serta berkomitmen/setia secara serius).
  • Keenam, mengelola sumber daya yang dibutuhkan (meliputi perencanaan perangkat/fasilitas dan dana yang dibutuhkan untuk berkegiatan, sesuai langkah pertama hingga kelima).
  • Ketujuh, mengelola waktu yang tersedia (biasa disebut penjadwalan tahap-tahap kerja secara masuk akal dengan memperhatikan langkah pertama hingga keenam).
  • Kedelapan, melakukan monitoring (memperhatikan bersama secara serius pada perkembangan dan hambatan di setiap tahap-tahap kerja melalui komunikasi intensif, pada langkah pertama hingga ketujuh).
  • Kesembilan, melakukan evaluasi (menilai pencapaian tujuan dan target sesuai rumusan indikator keberhasilan, menemukan kelebihan/kekuatan dan kekurangan/kelemahan secara umum maupun pada setiap langkah, dari langkah pertama hingga kedelapan) dan refleksi (menemukan pelajaran-pelajaran penting yang diperoleh tim pelaksana kegiatan sepanjang proses pengelolaan).
  • Kesepuluh, melaksanakan tindak lanjut (suatu kegiatan lanjutan yang perlu dilakukan jika pada saat evaluasi disimpulkan bahwa tujuan dan target program belum terpenuhi). Kegiatan tindak lanjut untuk mencapai tujuan dan target yang belum tercapai/terpenuhi ini biasa disebut program penguat (booster program).
Unsur pertama hingga ketujuh harus dilaksanakan secara urut, jangan sampai terbolak-balik. Langkah kedelapan dan kesembilan dilaksanakan di setiap pelaksanaan langkah pertama hingga ketujuh. Sedangkan langkah kesepuluh dilaksanakan setelah mempertimbangkan evaluasi masih ada tujuan dan target yang belum tercapai, dan pengelolaan kegiatan tindak lanjut tersebut dilakukan dalam langkah-langkah pertama hingga kesepuluh.

VII.             KEBUTUHAN DAN PERMASALAHAN ORANG MUDA

Dalam pendampingan formal kelompok/komunitas orang muda, pendamping mau tak mau ikut bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan kolektif yang mereka adakan. Artinya, pendamping tak sekadar hadir dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan, tapi sebaiknya berpartisipasi aktif dalam tahap-tahap pengelolaan kegiatan-kegiatan itu (perencanaan, persiapan, pelaksanaan, evaluasi-refleksi, tindak lanjut). Padahal, faktanya sampai saat ini, mendampingi orang muda dalam mengelola kegiatan mereka bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Mungkin banyak orang akan menolak anggapan tersebut. Alasannya, toh masih banyak juga kegiatan orang muda diselenggarakan. Lagi pula, banyak orang muda masih antusias mengikutinya. Namun yang harus dicermati, di satu sisi banyak kegiatan diselenggarakan dan banyak fasilitas (termasuk dana) disediakan untuk itu, sementara di sisi lain banyak kebutuhan orang muda yang belum terjawab dan banyak masalah mereka yang belum terselesaikan. Seolah-olah terjadi keterpisahan antara peyelenggaraan kegiatan di satu sisi, dan pemenuhan kebutuhan serta pemecahan masalah orang muda di sisi lain. Padahal kedua sisi tersebut seharusnya terkait-terhubung secara erat.

Untuk itu, pendamping orang muda dalam kelompok/komunitas perlu memahami pentingnya kebutuhan dan permasalahan orang muda sebagai salah satu dasar penyelenggaraan setiap kegiatan orang muda yang mereka dampingi.

Memahami Kebutuhan Orang Muda
Sering terjadi  banyak pendamping dan pengurus kelompok/ komunitas orang muda memiliki pemahaman yang simpang siur tentang kebutuhan. Banyak kegiatan mereka usulkan, rencanakan, dan laksanakan –katanya— atas dasar kebutuhan orang muda, namun biasanya kurang dilengkapi dengan penjelasan yang memadai tentang kebutuhan macam apa yang akan difasilitasi, mengapa kebutuhan itu muncul, pertimbangan dan parameter (alat ukur) apa yang dipakai untuk menentukan bahwa itu benar-benar kebutuhan.
Sebuah situs internet ChangingMinds.org (www.changingminds.org) mendeskripsikan kebutuhan sebagai berikut.
… In the absolute sense, needs are things without which we cannot survive. We need air, food and water. We also have needs in negotiations and persuasions. For example, when I am buying a house, I need three bedrooms because we have two children.The practical effect of needs is that they define the walk-away position. Needs are sometimes also called 'Musts', because they are things we must have.
(… Secara absolut/mutlak, kebutuhan adalah segala sesuatu yang tanpanya kita tak bisa bertahan hidup. Kita perlu udara, makanan dan air. Kita juga memiliki kebutuhan untuk bernegosiasi dan berpersuasi. Sebagai contoh, saat saya membeli rumah saya membutuhkan 3 kamar tidur karena memiliki 2 anak. … Efek-efek praktis dari “kebutuhan” tersebut adalah bahwa kebutuhan berada dalam “walk-away position”, sesuatu yang tak bisa dihindari. … Kebutuhan seringkali juga diartikan sebagai keharusan, karena kebutuhan adalah segala sesuatu yang harus kita miliki.)
Dari deskripsi kebutuhan tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa kebutuhan memiliki karakteristik: absolut/mutlak, tanpanya kita tidak bisa bertahan hidup, tak bisa dihindari, dan sering juga diartikan sebagai suatu keharusan atau sesuatu yang harus kita miliki.
Sedangkan menurut Teori Hirarki Kebutuhan-nya Abraham Maslow (1908-1970) seorang Phsycologist Amerika dalam buku Motivation and Personality (1943) (bdk. George Boeree, 2006), kebutuhan manusia terdiri dari beberapa ragam yang harus dipenuhi secara bertingkat (hirarkis), yakni
§  kebutuhan fisiologis (physiological needs), yakni kebutuhan-kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia seperti makanan (pangan), pakaian (sandang), tempat tinggal (papan), dan sex. Bahkan George Boeree (2006) dan George Norwood (2006) menyebutkan lebih banyak unsur yang lebih detail seperti oksigen, air, protein, garam, gula, kalsium, udara, kehangatan (suhu), dan sebagainya yang dibutuhkan tubuh.
§  kebutuhan akan rasa aman (security needs), mencakup kebutuhan akan suasana aman, stabil (tidak mudah bergejolak) dan aturan-aturan dalam bentuk struktur, perintah dan sejumlah batasan (a need for structure, order, some limits) yang mendukung rasa aman itu sendiri.
§  kebutuhan sosial (social needs), misalnya kebutuhan akan relasi dalam keluarga, relasi dengan teman, relasi dalam kelompok sebaya (peer group), kelompok kegiatan, masyarakat, lingkungan pendidikan/ pekerjaan, pendampingan hidup, pemakluman ketika mengalami kesalahan.
§  kebutuhan penghargaan pada diri sendiri (self esteem needs), terdiri dari kebutuhan akan penghargaan dan penghormatan dari orang lain (respect of others, appreciation), status sosial, kebutuhan untuk dikenal (popularitas, fame), kemenangan dalam persaingan (glory), pengakuan atas keberadaan diri (recognition), perhatian dari orang lain (attention), perasaan lebih dominan dari orang lain (dominance), sesuatu yang bisa dibanggakan (reputasi), kemampuan dalam bidang tertentu (competence), prestasi (achievement), kebebasan (freedom), daya kritis dalam mengambil keputusan.
§  kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs), misalnya kebutuhan akan kemampuan mengekspresikan diri, wadah untuk berekspresi, dan perkembangan potensi/talenta/bakat.
Pada perkembangan berikutnya, George Norwood (2006) menambahkan kebutuhan spiritual (spiritual needs) pada tingkat keenam dalam Hirarki Kebutuhan Maslow tersebut. Kebutuhan spiritual ini misalnya kebutuhan akan kedekatan relasi dengan Tuhan, pertumbuhan/perkembangan iman, peneguhan/penguatan iman dan wadah penumbuhan/pengembangan iman. Dengan demikian, teori Hirarki Kebutuhan tersebut digambarkan dalam skema berikut.
Skema Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow
(setelah dimodifikasi oleh George Norwood, 2006)





Skema di atas menggambarkan proses pemenuhan kebutuhan manusia yang bergerak ke atas, dari kebutuhan fisiologis di dasar piramida hingga kebutuhan spiritual di puncak paramida. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan di dasar paramida menentukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain di puncak paramida. Artinya, terpenuhinya kebutuhan fisiologis menjadi syarat pemenuhan kebutuhan akan rasa aman. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis dan rasa aman mendorong pemenuhan kebutuhan sosial, dst. Jika kebutuhan fisiologis belum terpenuhi, maka manusia sulit memenuhi kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, dst. Jika kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal saja belum memadai, maka manusia cenderung kurang memperhatikan kebutuhan rasa aman, sosial, penghargaan pada diri sendiri, hingga kebutuhan spiritualnya.
Dengan menggunakan kerangka teoritis tersebut, para pendamping bisa memahami kebutuhan orang muda secara lebih sistematis. Pendamping bisa mengumpulkan data tentang kondisi pemenuhan kebutuhan orang muda dengan melakukan observasi atau pengamatan kehidupan mereka sehari-hari, dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan alternatif seperti berikut.
§  Apakah orang muda yang didampingi telah tercukupi kebutuhan makanan dan pakaian mereka secara layak? Apakah mereka bermukim dalam tempat tinggal yang sehat?
§  Apakah orang muda sudah cukup merasa aman dalam kehidupan sehari-hari mereka? Apakah situasi sosial di sekitar mereka cukup stabil? Apakah mereka masih membutuhkan sejumlah aturan atau batasan yang mendukung rasa aman tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa dilanjutkan untuk mencermati kondisi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan orang muda hingga kebutuhan spiritual mereka.
Selain melakukan observasi, para pendamping bisa juga melakukan pengumpulan data dengan penyebaran kuesioner, wawancara mendalam, atau diskusi kelompok terfokus (focus group discussion). Pelaksanaan penelitian semacam itu akan penulis jelaskan dalam kerangka metodologi Riset Aksi Partisipatoris pada bagian selanjutnya.
Antara Kebutuhan dan Keinginan
Kesimpangsiuran pemahaman banyak pendamping orang muda tentang kebutuhan diperparah dengan campur aduknya pemahaman tentang kebutuhan (need) dan keinginan (want). Padahal kedua hal itu jelas-jelas berbeda. Banyak pendamping menyangka apa saja yang sedang diinginkan orang muda sebagai kebutuhan mereka. Keinginan-keinginan yang disangka sebagai kebutuhan ini dijadikan dasar pelaksanaan kegiatan-kegiatan. Akibatnya, kegiatan-kegiatan itu memang memuaskan keinginan orang muda, tapi belum tentu memenuhi kebutuhan mereka.
Sebagai contoh, pendamping menyangka bahwa orang muda membutuhkan kegiatan yang melibatkan banyak orang muda secara massal, karena mereka membutuhkan rasa kebersamaan dan peneguhan agar tidak selalu merasa sebagai kelompok minoritas. Untuk itu muncul kecenderungan untuk berkegiatan massal seperti temu akbar atau konser musik. Memang sebagian besar orang muda menginginkan kegiatan semacam itu, dan mereka senang menghadirinya. Namun, sungguhkah kebutuhan mereka dipahami secara jelas dalam kasus tersebut?
Sementara itu, dengan menggunakan pendekatan lain, bisa jadi kebutuhan orang muda yang perlu dipenuhi bukan kegiatan massal untuk menciptakan rasa kebersamaan dan peneguhan sebagai kelompok minoritas, melainkan kebutuhan rasa aman sebagai warga masyarakat berhadapan dengan segala bentuk diskriminasi (termasuk diskriminasi terhadap kelompok minoritas, seperti dalam kasus-kasus perijinan beribadat, penghargaan prestasi kerja untuk jenjang karir yang lebih baik di BUMN, dsb.), kebutuhan sosial untuk lebih nyaman berelasi dalam masyarakat yang majemuk/plural, kebutuhan akan penghargaan atas pewujudan potensi dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Orang muda, sebagaimana kelompok masyarakat mana pun, membutuhkan penghargaan pada hak-hak mereka  tanpa diskriminasi, misalnya untuk menempuh pendidikan, mencari pekerjaan, meningkatkan karir, membuka usaha ekonomi, terlibat dalam bidang politik secara praktis, dsb.
Jika diskriminasi terjadi terhadap mereka, kebutuhan-kebutuhan semacam itu tidak cukup dipenuhi dengan cara mengumpulkan mereka yang sama-sama mengalami diskriminasi agar merasa nyaman sebagai sesama korban, melainkan memecahkan akar permasalahan diskriminasi itu sendiri. Dalam tingkat struktural, perlu upaya-upaya mendesakkan agenda perumusan dan penegakan hukum yang bebas diskriminasi. Sedangkan dalam tingkat komunal dan personal, butuh upaya-upaya pemberdayaan masyarakat warga (tak terkecuali orang muda) agar semakin kritis dan berani memperjuangkan hak-hak mereka berhadapan dengan setiap tindak diskriminasi.
Kecenderungan untuk ingin selalu merasakan suasana nyaman berkumpul bersama dalam massa orang muda yang homogen (seiman, seminat, dsb.) bisa jadi didasari belum terpenuhinya kebutuhan sosial dalam berelasi dengan orang lain dalam masyarakat yang majemuk dan kesulitan mengaktualisasikan diri di dalamnya. Maka, mengumpulkan orang muda dalam kegiatan akbar sesaat tidak cukup memenuhi kebutuhan semacam itu. Perlu upaya-upaya melatih ketrampilan hidup berelasi di tengah masyarakat majemuk, mengambil peran dalam kehidupan bersama, hingga mereka mampu mengaktualisasikan diri di dalamnya sekaligus mendapat penghargaan sosial atau merasa dihargai sebagai warga masyarakat.
Mungkin pendamping orang muda tak mampu melakukan hal-hal tersebut sendirian. Untuk itu, mereka perlu menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pihak-pihak lain, misalnya pendamping umat/orang muda dari agama-agama lain, organisasi non-pemerintah (Ornop) atau non-government organization (NGO), organisasi ikatan profesi, lembaga bantuan hukum, media massa, dsb.
Membedakan kebutuhan dengan keinginan biasanya mudah dipikirkan, tapi sulit dilaksanakan. Biasanya keinginan lebih dominan mempengaruhi kita dibandingkan kebutuhan. Hasrat untuk mewujudkan keinginan telah dipengaruhi oleh lebih banyak hal dibandingkan hasrat untuk memenuhi kebutuhan. Jika kegiatan orang muda diawali dengan kesalahan membedakan, meneliti dan menentukan antara kebutuhan dan keinginan, maka semakin banyak kegiatan itu dilaksanakan hanya berdasar keinginan dibandingkan kebutuhan. Sehingga banyak kegiatan menyedot banyak pemikiran, tenaga, waktu dan dana demi keinginan, tapi kebutuhan-kebutuhan orang muda justru tidak terpenuhi.

Memperhatikan Permasalahan Orang Muda
Selain berdasarkan kebutuhan, setiap kegiatan perlu memperhatikan permasalahan tertentu yang sedang terjadi dan dihadapi orang muda. Permasalahan biasanya terlihat sebagai suatu kejadian atau situasi yang telanjur terjadi dan menimbulkan kerugian-kerugian tertentu (bukan melulu kerugian dalam arti ekonomi). Selain itu, suatu permasalahan perlu juga dilihat apakah ia “mendesak” (akan semakin merugikan jika tidak segera diatasi), atau ia “mendasar” (tak kentara namun menjadi penyebab dasar atau akar masalah atas munculnya masalah-masalah lain dan kerugian-kerugian yang yang diakibatkannya). Oleh karena itu kita perlu mengidentifikasi prioritas masalah baik yang mendesak maupun yang mendasar.
Permasalahan biasanya terjadi karena manusia dalam kondisi tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Padahal kebutuhan mengandung keharusan untuk dipenuhi. Kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut bisa disebabkan keterbatasan setiap manusia dalam memanfaatkan sumber daya di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Namun, selain itu, tidak terpenuhinya kebutuhan bisa jadi disebabkan adanya pengaruh-pengaruh tertentu yang membatasi kapasitas diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan itu sendiri. Sumber pengaruh-pengaruh tersebut bisa dari sistim dan struktur yang diberlakukan dalam masyarakat oleh kuasa negara, sektor bisnis atau perusahaan, atau kelompok sosial tertentu (misalnya partai politik, organisasi kemasyarakatan, lembaga agama, dsb.).
Kemampuan mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan semacam itu, lalu menyertakannya dalam perencanaan kegiatan-kegiatan orang muda perlu dikuasai pendamping. Tentu saja kegiatan-kegiatan orang muda tidak selalu ditujukan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Namun, peran pendamping yang lebih penting adalah membuka kesadaran orang muda terhadap permasalahan yang mereka hadapi dan mewarnai kegiatan-kegiatan mereka dengan hal-hal yang mengarahkan kontribusi orang muda pada upaya memecahkan masalah-masalah tersebut.
Sebagai contoh, setelah mempertimbangkan masalah-masalah , pendamping bisa menawarkan warna lain kegiatan orang muda yang memuat unsur-unsur pendidikan nilai tanggung jawab (agar orang muda berani menghadapi atau tak mudah lari dari persoalan hidup), nilai kesetiaan pada proses (agar orang muda tidak cenderung instan dan ingin segera mengharapkan hasil), ketrampilan wirausaha dan pemberdayaan ekonomi mikro (agar orang muda tertarik dan mampu merintis usaha-usaha ekonomi mikro sehingga membuka lapangan kerja baru), diskusi masalah kemasyarakatan seperti kemiskinan, pengangguran, tata kota, kebijakan pemerintah, dsb. (agar kerangka berpikir orang muda menghasilkan gagasan-gagasan konstruktif-alternatif pemecahan masalah-masalah kemasyarakatan tersebut), dsb.
Sayangnya, banyak orang muda dan para pendampingnya kurang terbiasa untuk mengalami proses (yang sering tidak mudah dan kurang praktis) untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan di atas. Akibatnya, banyak orang mendukung dan menyetujui diadakannya kegiatan hanya atas dasar banyak orang yang menginginkannya. Sebaliknya, sedikit orang yang bersedia untuk mengidentifikasi dan menilai kebutuhan dan permasalahan dengan jeli dan kritis terlebih dahulu sebelum menyelenggarakan suatu kegiatan. Apalagi jika hal terakhir tersebut biasanya mengandung risiko munculnya reaksi-reaksi tidak setuju bahkan tidak suka pada usaha tersebut.

VIII.           BEKERJA SEBAGAI TEAM
TAK SEORANGPUN YANG BISA JADI SUPERMAN
Almarhum Christopher Reeve menjadi sangat terkenal ketika ia memerankan tokoh Superman. Superman tokoh fantasi idola anak-anak sedunia karena kehebatan dan kekuatannya yang tak terkalahkan. Ia digambarkan senang menolong dan selalu menang atas berbagai kejahatan.
Namun, di akhir hidupnya Reeve mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan ia lumpuh total. Namun, semangatnya tak terpadamkan. Dengan bantuan istri, keluarga, rekan-rekan dan peralatan medis, ia sanggup menjadi sutradara film. Apa yang dapat kita simak dari peristiwa ini? Sungguh tak seorangpun yang benar-benar bisa menjadi superman. Kita semua ternyata saling membutuhkan. Sebuah kekuatan dan kehebatan terletak dari kerja sama dan sinergi yang harmonis.
KEGAGALAN THE LONE RANGER
Memang benar ada orang yang memiliki banyak talenta dan sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan sekaligus (multitasking), namun ia tidak memiliki segalanya. Ia tetap membutuhkan orang lain. Untuk sementara ia kelihatan unggul, tapi sesungguhnya ia tak akan mampu ber-saing menghadapi kekuatan sebuah tim.
Pernah ada seorang pemilik perusahaan yang bermaksud mencari rekanan untuk jasa training di kantornya. Ia menghubungi sebuah perusahaan training dan melakukan interview pada sang trainer. Si pengusaha menanyakan perihal kompetensi sang trainer. Dengan bangga sang trainer menjawab bahwa ia sanggup mengajarkan semua bidang keahlian yang diinginkan pemilik perusahaan. Harapannya, ia pasti memperoleh pekerjaan tersebut. Namun ia harus kecewa, karena ternyata si bos mencari trainer yang expert pada bidang tertentu dan bukan yang bisa segalanya.
DI TENGAH ERA GLOBALISASI, KITA MEMERLUKAN SPESIALISASI
Apa yang dilakukan Yesus ketika Ia siap memulai pelayanan? Yesus tidak sekadar berkhotbah, melakukan mukjizat, dan mengajar orang banyak. Tapi, Ia juga memanggil murid-murid-Nya yang pertama. Yesus membangun teamwork. Ia menyadari tugas mahapenting yang harus dilakukan, karena tidak untuk selama-lamanya Ia berada di dunia ini.
Ada hal yang menarik ketika Yesus memanggil para rasul-Nya. Yang merupakan prinsip-prinsip utama dari sebuah teamwork :
Spesifik – Mereka berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda. Yesus memanggil nelayan, pemungut cukai, dokter, pejuang kaum Zelot, dan lain-lainnya untuk menjadi rasul-rasul. Keragaman memperkaya khazanah dan kompetensi teamwork.
Network – Mereka dipanggil untuk menjadi penjala bukan pemancing.Sebuah jala berbeda dengan pancing. Pancing adalah usaha perorangan. Sedangkan jala berbicara tentang kerja sama. Saling mengisi, mendukung, dan menolong satu sama lain.
Delegasi – Mereka dipercayai melakukan tanggung jawab masing-masing. Secara mendadak murid-murid pernah diperintahkan untuk memberi makan 5.000 orang. Filipus segera menghitung anggaran biaya. Andreas bagian humas menemukan seorang anak dengan bekal roti dan ikan. Yesus memberkati dan murid-murid membagikannya. Mukjizat dan kuasa ada pada Yesus, namun teamwork yang ada selalu berfungsi sebagai pelaksana andal.
MEMBIASAKAN DIRI BEKERJA SECARA TEAM WORK
Tidak banyak yang memiliki bakat alamiah sebagai pemimpin. Namun sebagian besar pemimpin sulit mendele-gasikan atau bekerja sama dengan orang lain. Ego yang kuat dan sulit memercayai merupakan halangan terbesar dalam teamwork. Namun hal ini dapat dikelola dan dilatih agar kita tidak terjebak dalam kegagalan the lone ranger.
Seperti halnya seorang pemimpin tidak dilahirkan, melainkan dibentuk. Demikian pula sebuah teamwork harus dibangun dengan melewati berbagai proses pembentukan. Diawali dengan tahap pengenalan pribadi dan sesama anggota, lalu ada tahap konflik dan perbedaan pendapat. Kemudian terjadi proses saling memahami dan penyesuaian pribadi yang dilanjutkan dengan kemampuan untuk saling mengisi dan sinergi. Ketika seorang merasa lemah, maka anggota tim yang lain akan dapat menolong. Itulah keunggulan sebuah sinergi teamwork.
IX.                TEKNIK MEMFASILITASI PERMAINAN (GAME)

Oleh: Felix Iwan WiJayanto


PERMAINAN
Permainan (game) menjadi salah satu metode favorit yang digunakan dalam program-program pendidikan dewasa ini. Mengapa? Tak lain tak bukan karena sifat aktivitasnya yang menyenangkan untuk diikuti. Hal ini didasari hakekat manusia sebagai makhluk bermain (homo ludens). Dengan ungkapan lain, tak ada permainan yang tidak menyenangkan, atau jika ada suatu aktivitas yang tidak menyenangkan, pasti itu bukan permainan.

JENIS-JENIS PERMAINAN
Dalam program pendidikan, permainan dibagi-bagi menjadi beberapa jenis:
1.        menurut pesertanya
a.    permainan individu
adalah permainan yang dilakukan secara perorangan, biarpun semua peserta melakukan aktivitas permainan yang sama namun masing-masing berlaku sebagai pemain yang berdin sendiri.
b.   permainan kelompok
adalah permainan yang dilakukan secara berkelompok/beregu; tiap kelompok melakukan aktivitas bermain yang sama; biasanya digunakan untuk membandingkan cara tiap kelompok memainkannya atau untuk perlombaan.
c.    permainan massal
adalah permainan yang dilakukan semua peserta secara keseluruhan pada saat yang bersamaan; terjadi interaksi antar peserta selama permainan; peserta tidak bermain secara individu tapi bersama seluruh peserta lain.
2.        menurut tujuannya
a.    permainan pengakraban (ingrouping game)
adalah permainan yang bertujuan mendorong peserta untuk saling mengenal dan mengakrabkan din' satu sama lain; biasanya dilakukan di awal proses program pendidikan.
b.   permainan penyegaran/penambah semangat (energizing game)
adalah permainan yang bertujuan menyegarkan dan menyemangati peserta ketika kondisi din mereka (secara umum) belum/sudah tak lagi terlalu bersemangat/bergairah dalam mengikuti proses program pendidikan.
c.    permainan pemecah kebekuan suasana (icebreaking game)
adalah permainan yang bertujuan menetralisir suasana kaku/beku dalam proses program pendidikan, entah disebabkan terjadinya ketegangan antar peserta, antara peserta dan fasilitator atau antara pesertaJfasilitator dengan pihak lain dan luar arena program pendidikan.
d.   permainan bertema (thematic game)
adalah permainan yang bertujuan menyampaikan, menggali, mengolah tema materi tertentu untuk memudahkan peserta menyadari, memahami atau sekedar memicu ketertarikan/minat/motivasi mereka untuk mempelajari lebih lanjut dengan metode lain berikutnya.

Catatan:
Ada kalanya semua jenis permainan bisa mengakrabkan, bisa menyegarkan dan menambah semangat peserta, bisa memecahkan kebekuan suasana bahkan(!) sekaligus mengandung tema materi tertentu. Tapi alangkah baiknya permainan dipilih dan ditentukan secara persis sesuai tujuannya, tidak asal pakai, demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Selain itu, banyak permainan dicipta tanpa tujuan yang spesifik sejak awal, sehingga ia memiliki peluang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan apapun. Bahkan mungkin ada pula permainan yang dicipta untuk memenuhi keempat tujuan di atas sekaligus(!). Tapi tetap saja kita harus mempertimbangkan apa tujuan utama yang dipilih dan bisa dicapai lebih maksimal dibandingkan dengan tujuan yang lain.

3.        menurut penggunaan alat bantu
a.    permainan tanpa alat bantu
adalah permainan yang hanya mengandalkan anggota tubuh peserta, entah memang untuk mengoptimalkan fungsi alat tubuh atau memang karena tidak tersedianya alat bantu.
b.   permainan dengan alat bantu
adalah permainan yang menggunakan alat bantu (di luar anggota tubuh) seperti tali, tongkat, kotak, bola, kertas, alat tubs, dsb.

SYARAT-SYARAT PERMAINAN

1.        permainan harus menarik dan menyenangkan peserta (indikator: senyum/tawa)
2.        permainan harus mempunyai tujuan tertentu (dalam konteks program pendidikan)
3.        permainan harus menggerakkan potensi tubuh (fisik/psikis atau keduanya sekaligus)
4.        ruang dan waktu yang tersedia cukup/memadai
5.        jelas kapan mulai dan kapan berakhir (ditentukan oleh waktu dan tanda)
6.        kejelasan aturan main dan instruksi yang pasti (fix), tidak ambigu atau membuka penafsiran lain (semakin memiliki aturan ketat dan dilombakan, jangan sampai aturan main/instruksi memiliki celah tertentu yang bisa dimanfaatkan peserta untuk mengendalikan permainan)
7.        semua peserta berpartisipasi/ikut bermain, tanpa kecuali (tidak ada peserta yang menjadi observer/penonton kecuali sebab tertentu, misalnya sedang sakit)
8.        untuk permainan yang dilombakan harus ada pemenang dan (kalau perlu) hadiah sedangkan di sisi lain harus ada pihak yang kalah clan (kalau perlu) "hukuman yang menghibur"
9.        resiko rendah (tidak mengundang bahaya)
10.    murah, tidak perlu dengan biaya malial atau pengorbanan yang besar
11.    "single focus", fokus perhatian pada hal tunggal, tidak rumit/kompleks

TIPS KHUSUS (SESUAI JENIS PERMAINAN)
Selain memiliki syarat-syarat umum di atas, terdapat sejumlah tips mencipta, mengembangkan dan memfasilitasi Jenis-jenis permainan berikut:

1.        permainan individu
a.         dikerjakan secara individu, tidak berpasangan
b.         berisi kegiatan yang hams dikerjakan, tidak terlalu mudah tapi bisa diselesaikan tanpa bantuan orang lain
c.         lebih bagus jika permainan itu mampu mengundang ketertarikan, keinginan mencoba dan menyelesalkan (rasa penasaran) tapi tetap percaya pada kemampuan diri sendiri
d.         pembatasan waktu perlu diumumkan di awal permainan dan setiap periode waktu tertentu diumumkan kepada peserta (misalnya waktu yang tersedia tinggal 15 menit, 10 menit, 5 menit, hingga hitungan mundur 10-selesai)
2.        permainan kelompok
a.         dikerjakan secara kelompok (berpasangan/kelompok dengan anggota lebih besar; tapi jelas ada lebih dari 1 kelompok dari seluruh peserta)
b.         mengandalkan kerja sama antar anggota kelompok
3.        permainan massal
a.         membutuhkan keserempakan dan kesamaan kegiatan yang dilakukan seluruh peserta
4.        permainan pengakraban (ingrouping game)
a.         ada kegiatan interaksi antar peserta secara langsung (misalnya kontak fisik); berarti permainan pengakraban tidak mungkin dilakukan secara individual, tapi berkelompok atau massal (meskipun bisa diawali kegiatan individu seperti menuliskan nama atau  mencari simbol yang mencenninkan diri sendiri).
b.         pahami bahwa ada beberapa hal yang mampu mendukung munculnya keakraban antar peserta sekaligus fasilitator jika tiap peserta:
§   Mengenal identitas diri peserta lain: nama (lengkap/panggilan/julukan), tempat/tanggal lahir, pendidikan/pekerjaan, jumlah saudara dalam keluarga/anak ke-berapa dari berapa bersaudara, pekerjaan orang tua, sudah berkeluarga/masih lajang/punya pacar, dsb.
§   Melihat kondisi diri peserta lain: tinggi/berat/gemuk/kurusnya badan, jenis rambut (lurus, ikal, kerning, keribo), panjang rambut, warm dasar pakaian, dsb.
§   Mengetahut hobi/kegemaran dan minat: membaca, mendengarkan/memainkan musik, menonton TV/film, mendaki perjalanan, i gunung, menempuh pe jalanan, berdiskusi, dsb.
§   Memahami motivasi, harapan, kecemasan peserta lain: ingin mencan kawan baru, mengisi waktu Luang, menambah pengalaman/wawasan, meningkatkan ketrampilan, mencemaskan kesulitan menyerap materi, mengkhawatirkan proses menjenuhkan, dsb.
c.         permainan bisa memanfaatkan hat-hat di atas sebagai materinya; misalnya:
§   Mencari kesamaan (jumlah huruf/abjad pertama nama panggilan, tinggi badan, jenis rambut, hobi, motivasi, dsb.)
§   Membentuk barisan menurut urutan (jumlah kata nama lengkap, tanggal/bulan/tahun lahir, panjang rambut, dsb.)
§   Membentuk kelompok menurut kesamaan (warna dasar pakaian, motivasii terdalam, hobi, dsb.)
5.         permainan penyegaran/penambah semangat (energizing game)
a.        ada bagian-bagian tubuh tertentu yang digerakkan (baik pusat kelesuan atau ketidaksegaran terjadi atau bagian tubuh yang berpengaruh pada penyegaran tubuh secara umum/penambah semangat)
b.        seringkali akan lebih efektif jika dibarengi eksplorasi suara peserta atau iringan musik dinamis (irama bersemangat, syair lagu gembira/riang)
c.         perlu konfirmasi kepada peserta sebelum permainan diakhiri apakah peserta merasa lebih segar/bersemangat atau belum (jika belum, permainan bisa diteruskan atau berganti permainan baru tapi sejenis)
6.         permainan pemecah kebekuan suasana (icebreaking game)
a.        isi permainan tidak perlu atau bahkan(!) jangan sampai dikait-kaitkan dengan penyebab kebekuan suasana. (misalnya pertentangan ide, kesenjangan pengalaman, dsb) karena beresiko memperburuk keadaan, tapi sebaiknya berisi aktivitas yang tidak ada hubungannya sama sekall dengan penyebab kebekuan suasana tersebut.
b.        usahakan aktivitas permainan mampu membuat peserta mengabaikan atau melupakan (untuk sementara) materi dan suasana proses program pendidikan yang baru saja terjadi (beku/kaku).
c.         Biasanya permainan pemecah kebekuan lebih efektif bila dilakukan bersama-sama dalam bentuk permainan massal (lihat jenis permainan berdasarkan pesertanya di atas). Selain lebih mudah dislapkan dan difasilitasi, permainan massal juga mudah dlikuti karena seluruh peserta melakukan kegiatan yang sama bersama-sama.
7.         permainan bertema (thematic game)
a.        permainan yang dipilih pasti memiliki tema dan tujuan tertentu yang relevan dengan materi yang ingin ngin disampaikan/diolah melalui "pintu masuk" permainan itu.
b.        perlu diikuti dengan penggalian/pencarian makna di balik aktivitas permainan yang dilakukan peserta karena inti permainan terletak pada maknanya. Makna itulah yang nantinya dijadikan kunci masuk ke dalam pembahasan/pengolahan materi yang ingin dituju berikutnya.
c.         Antara aktivitas permainan dengan makna yang mungkin tergali. dari permainan itu diusahakan tidak terlalu senjang/berjarak jauh, sehingga tidak menyulitkan peserta menggali makna yang diharapkan muncul.
d.        Untuk itu aktivitas yang dilakukan dalam permainan hendaknya diusahakan memiliki kemiripan-kemiripan dengan kondisi konkret yang terjadi dalam situasi lain yang mengandung makna yang sama.
8.         permainan tanpa alat bantu
a.         mengandalkan potensi gerak sebanyak mungkin anggota tubuh (anggota tubuh, sendi, kelenturan/keluwesan, sentuhan dan tepukan, suara yang dihasilkan, dsb.)
b.        semakin membuat peserta mampu menggerakkan anggota tubuh yang jarang digerakkannya, semakin balk permainan ini (biasanya dikaitkan dengan aktivitas peserta yang rutin/berhubungan dengan peker aan sehari-hari, dsb).
9.         permainan dengan alat bantu
a.         yang d1utamakan dalam permainan adalah tubuh; alat bantu hanya berfungsi pembantu/pendukung, jadi bukan yang utama dalam permainan.
b.     usahakan memilih dan menggunakan alat bantu sesederhana mungkin (karena semakin kompleks, sulit diadakan dan mahal alat bantunya, semakin sulit permainan ini dikembangkan, mengalihkan perhatian fasilitator dan peserta kepada alat bantunya dan menciptakan ketergantungan permainan pada alat bantu).
c.         jika permainan dengan alat bantu sekaligus merupakan permainan bertema, waspadailah jangan sampai pemaknaan permainan tertuju pada alat bantunya, melainkan aktivitas permainannya.

PENTINGNYA MENCIPTA PERMAINAN

Selama ini banyak orang percaya bahwa proses penciptaan (penemuan?) apapun di dunia ini bergantung pada talenta (talent) atau karunia khusus yang sudah dari sononya (taken for granted, tinggal diterima karena. semau-mauNya Tuhan), sehingga sudah menjadi bakat, tidak bisa dipelajari, bahkan tidak selalu bisa diwariskan. Namun, terobosan-terobosan baru dalam dunia pendidikan terutama menyangkut paradigma/kerangka berpikir-nya, perihal mencipta permainan menjadi kegiatan yang bisa/mungkin dipelajari, bisa ditularkan/disebarluaskan, dan bisa dilatih. sehingga, terciptanya permainan baru bukan barang mustahil bagi seseorang yang (bahkan!) sama sekali belum pernah melakukannya, asalkan dia tekun mempelajari dan mencoba terus-menerus.

Dalam konteks program pendidikan orang muda Katolik, adalah suatu keprihatinan tersendiri bahwa ada banyak permainan yang telah ditemukan di masa lalu tetap dipergunakan hingga bertahun-tahun lamanya seolah-olah tanpa ada permainan baru yang bisa menggantikannya (bahkan dengan tujuan yang sama persis sekalipun). Yang lebih menjijikkan lagi, bahkan upaya memodifikasinya pun tidak ada, sehingga permainan itu-itu juga yang digunakan dari acara ke acara, dari tahun ke tahun, bahkan untuk peserta yang kurang lebih sama dan telah sering melakukan permainan yang sama.

Meskipun sebenamya, menjadi tak kalah menarik jika permainan itu disajikan dalam aturan-aturan dan langkah-langkah yang kompleks, bertingkat-tingkat, sehingga detail aktivitas yang akan dialami peserta (jika peserta itu pernah melakukannya akan melakukannya lagi) dan hasilnya sungguh-sungguh belum bisa ditebak (mirip permainan olah raga internasional seperti sepak bola atau bola sodok/bilyar). Namun tetap saja penggunaan permainan yang selalu sama di setiap kesempatan (apalagi dilakukan oleh peserta yang pernah, sering dan selalu mengalaminya) akan beresiko menciptakan suasana pendidikan yang tidak menarik, dan bertolak belakang dengan sifat serta hakekat permainan itu sendiri (bahwa permainan seharusnya selalu menarik dan menyenangkan).
Selain itu, mencipta permainan baru berarti membuka peluang ditemukannya metode permainan yang lebih aktual (sejalan dengan perkembangan situasi jaman), lebih kontekstual (sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan situasi peserta), dan lebih banyak menemukan pelajaran (lesson learned) penting untuk digali (terutama untuk permainan tematis).

TEKNIK MENCIPTA PERMAINAN

Berikut ini disajikan squmlah langkah alternatif jika kita ingin mencipta permainan baru untuk dilakukan sebagai metode dalam program pendidikan (bukan sekedar permainan atau bukan permainan asal-asalan). Penciptaan permainan bertolak dari tujuan/maksud tertentu yang sudah jelas dibutuhkan dalam proses program pendidikan:


1.        Pahami dan pastilian tepat-tidaknya metode permainan digunakan dalam materi/proses tertentu yang dimaksud.
a.    Apakah permainan menjadi metode paling tepat? Mengapa? Apa saja pertimbangannya?
b.    Apakah mencapai seluruh/sebagian tujuan materi/proses? Seberapa efektif?
c.     Apakah ada metode lain vang lebih tepat?

2.        Tentukan tujuan permainan yang relevan dengan kebutuhan materi/proses.
a.    Apakah untuk mengakrabkan peserta? (ingrouping game)
Jika ingin mencipta permainan pengakraban:
i.       Pilihlah hal-hal yang bisa dijadikan materi permainan (lihat tips di atas)
ii.     Tentukan aktivitas berkelompok yang perlu dan mungkin dilakukan peserta hingga menciptakan suasana akrab satu sama lain (lihat tips di atas tentang hal­-hal yang mengakrabkan peserta) misalnya:
§   Memperkenalkan diri (identitas singkat, identitas lengkap)
§   Membentuk kelompok (sesuai kesamaan/perbedaan, membuat bangunan dari tubuh manusia, dsb.)
§   Membentuk barisan (urutan, garis panjang, dsb.)
§   Berlomba antar kelompok (adu cepat, adu panjang/pendek, adu tinggi, dsb.)
iii.   Tuliskan ide urutan aktivitas permainan sembari mencoba melakukannya, ajaklah orang lain sebagai partner.
iv.    Alangkah bagusnya jika permainan diuji coba efektivitasnya (tingkat keberhasilannya mengakrabkan) sebelum diterapkan dalam program pendidikan.
b.    Apakah untuk menyemangati peserta? (energizing game)
Jika ingin mencipta permainan penyemangat:
i.       Pilihlah bagian-bagian tubuh tertentu yang menjadi penyebab kurang bersemangatnya peserta (lihat tips di atas)
ii.     Tentukan bagian-bagian tubuh tertentu yang akan digerakkan untuk menghilangkan/mengurangi kurang bersemangatnya peserta (lihat tips di atas)
iii.   Tentukan bagaimana gerak bagian-bagian tubuh tersebut (perhatikan dasar-dasar gerak: gerak lurus, gerak lengkung, gerak bersambung, gerak patah-patah, gerak berputar, gerak naik/turun, dsb)
iv.    Jika dimainkan secara berkelompok, tentukan bagaimana gerak peserta secara individual bisa menjadi gerak secara kelompok; perhatikan kemungkinan­kemungkinan:
§   gerak serempak
§   gerak bersentuhan –misalnya sentuhan bahu peserta dengan bahu peserta lain, tepuk tangan peserta dengan tangan peserta lain
§   gerak berkaitan –misalnya dengan berpegangan/berkaitan tangan—, dsb.)
v.     Tuliskan ide urutan aktivitas permainan sembari mencoba melakukannya (untuk aktivitas permainan berkelompok, ajaklah orang lain sebagai partner).
vi.    Alangkah bagusnya jika permainan diuji coba efektivitasnya (tingkat keberhasilannya menambah semangat) sebelum diterapkan dalam program pendidikan.
c.    Apakah untuk memecahkan kebekuan suasana? (icebreaking game)
Jika ingin mencipta permainan pemecah kebekuan suasana:
i.           Carilah kegiatan-kegiatan sehari-hari yang menyenangkan (dan sama sekali tidak berkaitan dengan materi/proses yang baru saja diikuti peserta), misalnya: menyanyi, menari, menceritakan dan mendengarkan kisah lucu, memecahkan teka-teki, dsb.
ii.         Ubahlah kegiatan-kegiatan menyenangkan itu dalam format permainan terutama yang melibatkan peserta secara keseluruhan (massal). Misalnya:
iii.       Menyanyi dan menari bersama (lagu bersyair pendek, mudah dihafal dalam waktu singkat, sebaiknya diiringi muik dn dibarengi gerak tubuh/tarian peserta). Catatan: permainan yang dilakukan dengan menyanyi dan menari tidak sama dengan sekedar menyanyi atau menari sehari-hari. Karena unsur utamanya bukan menyanyi atau menari itu sendiri, tapi bermain. Jadi, tidak semua lagu (yang bisa dinyanyikan sehari-hari) dan tidak semua tarian (yang bisa ditarikan sehari-hari) bisa begitu saja berubah menjadi permainan pemecah kebekuan suasana. Carilah lagu (yang jika dinyanyikan) dan carilah tarian/gerak tubuh (yang jika dilakukan) bisa menyebabkan peserta merasakan sedang bermain, bukan menyanyi atau menari. Misalnya, jangan nyanyikan lagu pop, tapi lagu yang isi syairnya menggerakkan tubuh untuk menari (biarpun lagu itu lagu anak-anak seperti menyanyikan "Potong Bebek Angsa" sambil berjalan seperti bebek atau "Aku Anak Sehat" sambil membuat bahasa isyarat setiap kata kunci syairnya: aku-sehat-tubuh-kuat-­ibu-rajin/cermat-bayi-asi(!)-dst.
d. Apakah untuk menyampaikan, menggali, mengolah tema materi tertentu? (thematic game)
Jika ingin mencipta pennainan bertema:
i.           Tentukan tujuan, tema dan makna yang diharapkan dari permainan yang akan diciptakan.
ii.         Carilah aktivitas kehidupan sehari-hari yang mengandung tujuan, tema atau makna tersebut (sebagai inspirasi permainan). Misalnya:
§   Tema "pentingnya kerja sama" terlihat dalam aktivitas kenek Metromini
yang mei-nandu si sopir memarkir Metromini atau lomba panjat pinang.
§   Tema "komunikasi efektif'tercermin dalam kegiatan menelepon, berbahasa isyarat atau berkirim surat.
§   Tema "persaingan" terlihat dalam perlombaan renang atau menari telur paskah.
§   Tema "berstrategi" bisa dicermati dari komandan perang mengatur serangan atau manajer tiro sepak bola mengatur fon-nasi pemain-pemainnya.
iii.       Cermati inti dari aktivitas atau kegiatan sehari-hari yang sesuai tujuan, tema atau makna tertentu itu. Misalnya:
§   Inti kerja sama kenek dan sopir adalah saling menutup keterbatasan orang lain untuk menyelesaikan pekeriaan.
§   Inti keberhasilan menelepon adalah kesepahaman pesan antar orang yang berkomunikasi lewat telepon.
§   Inti persaingan menari telur paskah adalah mengumpulkan telur sebanyak­banyaknya dan secepat mungkin sebelum diambil orang lain.
§   Inti berstrategi yang dilakukan komandan perang adalah mengatur kekuatan untuk mengalahkan lawan.
iv.       Ciptakan aktivitas lain yang sesuai dengan inti aktivitas tersebut, misalnya:
§   "saling menutupi keterbatasan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan" bisa dilakukan oleh 2 orang yang harus menyelesaikan tugas tertentu yang tak mungkin diselesaikan 1 orang saja karena masing-masing punya keterbatasan; tugas hanya bisa diselesaikan jika keterbatasan orang pertama ditutupi oleh orang kedua dan begitu pula sebaliknya.
§   "mengatur kekuatan untuk mengalahkan lawan" bisa dilakukan oleh 2 kelompok yang harus saling mengalahkan (misalnya dengan memasuki daerah lawan), namun masing-masing memiliki kekuatan terbatas (misalnya sebagian ditutup matanya, sebagian lagi diikat kakinya).
v.         Tuliskan ide urutan aktivitas permainan sembari mencoba melakukannya (untuk aktivitas permainan berkelompok, ajaklah orang lain sebagai partner).
vi.       Alangkah bagusnya jika permainan diuji coba efektivitasnya (tingkat keberhasilannya menambah semangat) sebelum diterapkan dalam program pendidikan.

TRYING AND NEVER GIVE UP


TRYING AND NEVER GIVE UP
            Menulis adalah hal yang sangat membosankan bagiku. Menurut saya, menulis hanyalah membuang waktu saja dan tak ada gunanya. Kadang-kadang hal itu membuatku agak frustasi sehingga aku tidak memiliki banyak kosa-kata untuk menulis. Ya, tidak ada sumber yang menginspirasiku untuk menulis. Di sekolah pun begitu. Pelajaran yang saya sangat tidak sukai ialah Bahasa Indonesia. Masih teringat dalam pikiranku ketika saya masih mengenyam pendidikan di SD. Jika guru menyuruh kami untuk menyalin ringkasan materi, saya justru tidak untuk menulisnya dan biasanya saya meminjam buku catatan temanku untuk disalin di rumah. Itulah sebabnya sehingga nilai saya boleh dikatakan pas-pasan. Ya, itu pengalaman yang saya alami khususnya dalam menulis.
            Entah bagaimana ceritanya, sehingga pernah suatu hari mulai tumbuh niat untuk menulis. Ya, saat itu saya menulis sebuah cerpen. Cerpen tersebut menginspirasi saya dari pengalaman teman saya di SMP dulu. Syukurlah, cerpen tesebut jadi walaupun cerpen tersebut masih jauh dari harapan. Kosa-kata yang belum terlalu banyak sehingga menyulitkan dalam membuat suatu tulisan. Aku pun mengikutsertakan cerpen itu ke sebuah sekolah di mana akan diseleksi dan darisitu akan dibukukan seperti sebuah majalah. Aku kaget ketika mendengar bahwa karya cerpen saya masuk dan lolos untuk dibukukan. Wah, kegembiraan meliputi diriku. Aku bangga pada diriku sendiri. Ternyata dalam diriku terdapat jiwa berkarya dalam menulis.
            Awal yang menjadi sebuah hobby dalam menulis. Jika saya ingin menulis sebuah karya, biasanya saya meminta bantuan untuk memberikan masukan serta pendapat agar suatu karya menjadi sangat menarik dan disukai para pembaca. Ada salah seorang penulis yang saya sangat kagumi. Dia ialah Andrea Hirata yang tak lain penulis novel “Laskar pelangi”. Karya yang sungguh spektakuler. Saya terkesan atas ceritanya. Menurut saya Novel “Laskar Pelangi” merupakan suatu ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan. Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, yang dituturkan secara indah dan cerdas.
            Saat itu terbayang dalam pikiranku, “Aku ingin menulis dan membuat sebuah karya”. Why not.! Yang terpenting dalam menulis ialah berusaha untuk membuat sedemikian rupa jalan ceritanya agar menarik.
            Hari demi hari terus berganti, minggu demi minggu terus berlalu, tanpa terasa waktu telah jauh pergi. Di sebuah sudut kamar, seorang penulis meratapi waktu yang berlari begitu cepat meninggalkannya. Ketika batas waktu yang telah ditentukan semakin dekat, dia masih bergelut dengan badmood. Saat waktu yang ditentukan tiba, tulisan belum juga dia hasilkan. Dalam keadaan terdesak dan nyaris frustasi, timbul pertanyaan dalam hatinya, untuk apa aku menulis? Mengapa saya harus repot dan bersusah-payah...” kadang-kala saya terbebani dalam menulis.
            Saya pernah curhat dengan teman dan guru saya khususnya dalam hal mengarang sebuah karya. “Saya sebenarnya suka menulis. Tapi ketika memulai, saya bingung harus dimulai dengan kata atau kalimat apa. Kemudian ketika saya bisa memulai menulis, saya bingung bagaimana membuat paragraf. Saya tidak bisa menyusun paragraf dengan baik. Tulisan saya asal-asalan saja.”
            Mereka pun menjawabnya, “Kesulitanmu dalam menulis justru berasal dari hal-hal yang Anda tanyakan ini. Anda terlalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan. Pikiran “takut ini, bingung itu” dan seteruslah merupakan hal-hal yang menghambat kita, membuat kita tak bisa menulis. Jadi solusinya, coba hilangkan saja beban pikiran seperti itu. Mulailah menulis dengan menerapkan kiat menulis bebas. Bila sudah menerapkan kiat menulis bebas, yakinlah bahwa Huda akan menganggap bahwa ternyata MENULIS ITU SANGAT MUDAH!  Dan mengenai pertanyaan kedua, begini ya:
Menulis adalah keahlian. Sama seperti menyetir mobil, main piano, karate, menari, dan seterusnya. Semua orang yang mempelajari keahlian apapun, pasti awalnya banyak melakukan kesalahan. Dan dalam semua keahlian, kita pasti akan semakin mahir bila semakin rajin berlatih. Menulis pun sama seperti itu. Jadi Huda tak perlu khawatir atau cemas dan gelisah bila saat ini tulisan Huda masih belepotan, masih banyak salahnya di sana-sini. Semua orang yang baru belajar menulis memang seperti itu. Saya pun dulu ketika masih sangat pemula, tulisan saya sangat jelek dan banyak salah di sana-sini. Tak ada yang aneh dengan hal itu, dan tak perlu dipikirkan sama sekali. Yang Huda butuhkan hanya rajin berlatih menulis. Ketahuilah bahwa hanya ada tiga rahasia agar kita bisa menghasilkan tulisan yang bagus, yakni:
1.      Banyak menulis
2.      Banyak membaca
3.      Tak pernah putus asa dalam berkarya.
Akhir kata, saya ingin menuliskan kalimat yang paling inspiratif yang dapat menginspirasi kita semua. “Hidup adalah sebuah inspirasi dalam sebuah balada yang indah. Balada kehidupan itu penuh dengan misteri, setiap perjalanan hidup yang kita jalani berbeda jalan ceritanya. Hitam di atas putih. Ya…jangan pernah putus asa dalam menulis walaupun banyak kesulitan yang kita hadapi. Tetapi, biasakanlah menulis beberapa kata sehingga nantinya akan menjadi beribu-ribu kata”. trying and never give up…
Sekian dan terima kasih. Salam…
                                                                        By : Wyllmar S Pasangka













Drama Natal Paroki Yohanes Rasul Minanga


Drama Natal
Paroki Yohanes Rasul Minanga
KELAHIRAN YESUS KRISTUS
ADEGAN 1: Pemberitahuan Tentang Kelahiran Yesus
[[Musik pengiring instrumental mengalunkan lagu (Love Them). Narator mulai membacakan naskahnya di belakang panggung.]]
NARATOR:
Dalam bulan keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata:
MALAIKAT 1:
"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
NARATOR:
Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya. Apakah arti salam itu?
MALAIKAT 2:
"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia, Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
MARIA:
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
MALAIKAT 3:
"Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu disebut Kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
MARIA:
"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
ADEGAN 2: Maria dan Elisabet
[[Panggung ditata dengan latar belakang rumah Elisabeth. Elisabet memasuki panggung. Musik instumental (Your Song)
NARATOR:
Berapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakaria dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring.
ELISABET:
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Mereka berdua sangat bahagia sambil bergandengan tangan.
ADEGAN 3: Nyanyian dan Pujian Maria
Musik Instrumen (Cavatina)
NARATOR:
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. Beberapa bulan kemudian. Dengarkan, dengarkan. Kaisar Agustus mengumumkan bahwa akan ada sensus. Setiap orang akan dihitung dan harus kembali ke kota asal masing-masing. Setiap orang harus tahu berita ini!
Yusuf serta Maria (hamil) masuk.
YUSUF : Maria, Aku tahu kamu sedang hamil, tapi kita harus pergi ke Bethlehem untuk ikut sensus.
MARIA: Ya Yusuf. Aku rasa aku bisa melakukan perjalanan itu, dan aku tahu Tuhan akan bersama kita selama perjalanan.
(Yusuf dan Maria berkemas-kemas dan memulai perjalanan mereka. Saat melewati penginapan pertama, mereka mengetuk pintu. Pemilik penginapan di balik pintu.)
PEMILIK PENGINAPAN 1: Ya, tunggu sebentar.
YUSUF: Kami sudah melakukan perjalanan yang panjang, apakah Anda masih punya kamar untuk kami?
PEMILIK PENGINAPAN 1: Maaf, tetapi tidak ada lagi kamar yang kosong di sini. Cobalah ke penginapan sebelah.
(Yusuf dan Maria berjalan ke penginapan selanjutnya, dan mengetuk pintu.)
PEMILIK PENGINAPAN 2: Maaf sekali, bila Anda mencari tempat untuk menginap, tempat kami sudah penuh. Cobalah ke penginapan sebelah.
(Yusuf dan Maria berjalan ke penginapan berikutnya, dan mereka hampir sampai di pintu penginapan saat pemilik penginapan 3 keluar.)
PEMILIK PENGINAPAN 3: Sungguh tidak dapat dipercaya, tempat ini hampir penuh sesak. (Dia menatap Maria dengan penuh belas kasihan). Saya rasa kamu tidak akan mendapatkan kamar lagi untuk menginap di kota ini. Tetapi kamu juga jangan melanjutkan perjalanan karena sekarang sudah malam. Bila kamu tidak keberatan, kamu bisa beristirahat di kandang milikku di belakang rumah. Kandang itu memang bukan tempat yang paling nyaman, tetapi setidaknya ada atap yang menaungimu. Dan binatang-binatangnya tidak liar, mereka tidak akan menganggu kalian.
(Yusuf dan Maria harus beristirahat. Kandang pun tidak menjadi masalah bagi mereka.)
PEMILIK PENGINAPAN 3: Kalau begitu, ayo ikut aku.
(Pemilik penginapan berjalan dan menunjukkan jalan kepada Yusuf dan Maria menuju kandang, kemudian semua pemilik penginapan keluar.)
 (Di dalam kandang)
(Yusuf dan Maria duduk di lantai dan kemudian mulai menyiapkan tempat tidur mereka.)
YUSUF: Aku tahu Tuhan bersama kita. Lebih baik kita tidur di sini daripada di luar.
MARIA: Yusuf, aku merasa tidak enak badan. Aku benar-benar lelah, dan aku merasa sakit. Aku rasa bayi ini akan segera lahir.
YUSUF: Maria, berbaringlah di tempat yang sudah aku siapkan ini. Sudah tidak lama lagi.
Musik Instrumen (Canon In D)
NARATOR: Sementara itu, beberapa gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka pada malam hari ketika tiba-tiba seorang malaikat muncul di depan mereka.
MALAIKAT 1: Dengar, Aku membawa kabar sukacita. Hari ini, di kota Daud telah lahir bagimu seorang Juruselamat, yaitu
Kristus Tuhan. Dan ini akan menjadi tanda bagimu, kamu akan menemukan seorang bayi dibungkus kain dan diletakkan di palungan.

SEMUA MALAIKAT: Puji Tuhan yang mulia, dan damai di bumi bagi mereka yang berkenan pada-Nya.
GEMBALA 1: Mari kita ke Bethlehem dan melihat apa yang sudah Tuhan katakan kepada kita.
GEMBALA 2: Ayo kita beritahu teman-teman kita dan kita segera pergi. Puji Tuhan atas kabar baik ini. Ayo, ini perjalanan panjang.
Musik Instrumen (En Aranjuez con tu amor)
NARATOR :Begitulah para gembala, setelah mendengar kabar dari para malaikat mereka pergi mengunjungi bayi itu. Tak lama kemudian, tiga orang majus melihat sebuah bintang bersinar terang di langit.
MAJUS 1: (Menunjuk pada bintang) Lihat, ada bintang. Lihatlah betapa terangnya bintang itu!
MAJUS 2: (Melihat bintang itu) Ini adalah tanda. Tanda yang indah. Raja orang Yahudi telah lahir!
MAJUS 3: Mari kita pergi dan menyembah Dia. Hadiah, kita perlu hadiah!
MAJUS 1: Aku tahu apa yang bisa aku berikan untuknya. Aku akan memberi-Nya emas, karena Dia Raja.
MAJUS 2: Hadiahku istimewa. Aku akan memberikan mur.
MAJUS 3: Hadiahku adalah kemenyan. Ayo kita letakkan di kotak istimewa, karena Dia adalah Raja.
(Ketiga majus itu meletakkan hadiah mereka ke sebuah kotak tempat menyimpan barang berharga. Narator masuk. Kemudian para majus berjalan mengelilingi kandang sambil melihat pada bintang. Maria mengangkat bayinya dan kemudian mengendongnya.)
PRAJURIT           : Yang Mulia, Tiga Raja dari Timur Sedang mencari Mesias yang baru dilahirkan.
HERODES            : Suruh mereka masuk!
PRAJURIT           : Baik Yang Mulia!
Kemudian prajurit itu mempersilahkan ketiga majus itu masuk ke rumah Herodes.
MAJUS 1               : Kami melihat sebuah bintang di timur dan sedang mencari raja Yahudi yang baru dilahirkan.
HERODES            : Raja orang Yahudi ? tidak ada raja orang Yahudi.
Setelah itu, Herodes menyuruh prajuritnya untuk memanggil seorang Ahli Taurat.

LOMBA CERPEN SIAPAKAH AKU INI TUHAN ?

oleh Willy Wyllmarz Williamz Wallcottnezz pada 8 Januari 2012 pukul 19:45
LOMBA CERPEN SIAPAKAH AKU INI TUHAN ?
oleh Wahidin Sinaga pada 15 Desember 2011 pukul 20:18
Sebagai salah satu Upaya untuk meningkatkan kualitas dan Keterampilan Menulis serta untuk meramaikan penayangan cerpen di facebook, Grup CAA Publiser, dan Wahidin Sinaga Mengadakan Lomba Cerpen Bertema Siapakah Aku Ini Tuhan?

-          Syarat Peserta
  1. Peserta Lomba Bebas, tidak ada Batasan Usia, Jenis Kelamin dan Lainnya.
  2. Berteman dengan Wahidin Sinaga (  http://www.facebook.com/?ref=tn_tnmn#!/sinagawahidin ) dan grup Kampung Para Sastra ( http://www.facebook.com/?ref=tn_tnmn#!/groups/249480738447999/ ).
  3. Memposting Info Lomba Cerpen Ini di Note FB anda dan mentag minimal 25 Orang Termasuk Wahidin Sinaga.
  4. Mengikuti Peraturan dalam Gambar Lomba.
  5. Mendaftarkan dirikalian disini ( http://caakomunitaspena.blogspot.com/2011/12/formulir-pendaftaran-lomba-siapakah-aku.html ) untuk Biodata Peserta lomba.
  6. Naskah yang diterima adalah Naskah Yang Memenuhi 2,3,4,5 yang akan masuk penjurian Naskah.
-          Syarat Cerpen
  1. Tema Siapakah Aku Ini Tuhan ?
  2. File Berbentuk doc.
          Diketik dalam Microsoft Word 97/03/07/10
          Sepasi 1,5
          Font : TNS ( Times New Romans )
          Ukuran Font :
              ‘ Judul   = 16pt ‘
              ‘ Sub Judul  = 14pt’
              ‘ Isi  = 12pt’
          Margin Normal Sesuai Microsoft Word 2003 ( 1 , 1.25 , 1 , 1.25 )
          Ukuran Kertas  A4
          Kata Pertama Menggunakan Dropcap bentuk Dropped
          Bentuk Paragraf adalah Justify
          Warna Tulisan Hitam
          Boleh Ditambahkan item-item Pendukung
3.   Menggunakan Bahasa Indonesia
4.   Panjang Cerpen Min 4 Hal
5.   Masing- Masing Peserta hanya boleh menggirim 4  Judul Cerpen ( File Pisah )
6.   Sertakan Biodata dalam bentuk paragraf maksimal 70 Kata

-          Lain-Lain
  1. Kirim Cerpen, Biodata, dan Foto anda melalui : tamansastra@gmail.com , dalam attachment ( bukan di body e-mail ) dengan Subject Pesan  :  Nama + SAIT + Judul Cerpen
  2. Keputusan Juri Tidak dapat diganggu Gugat.
  3. Hak Cipta atas karya tetap dimiliki para Penulis dan Untuk CAA Publiser Wajib Menyantumkan Nama Kalian di dalam ebook/Buku .
  4. Kiriman Cerpen ditunggu Paling lambat tanggal 01 Februari 2012.
  5. Pemenang akan diumumkan pada Maret 2012
  6. Tidak Dipungut Biaya ( alias Gratis )
  7. 10 Karya Terbaik akan Mendapatkan
  • Juara 1 :  Pulsa Rp. 200.000 + Buku Hewan Peliharaanku – Wahidin, dkk + Piagam Online
  • Juara 2 :  Pulsa Rp. 100.000 + Buku Hewan Peliharaanku – Wahidin, dkk + Piagam Online
  • Juara 3 :  Buku Hewan Peliharaanku – Wahidin, dkk + Piagam Online
  • Juara 4 - 10 :  Piagam Online


Selamat Berlomba, Selamat Berkarya

BROSUR LOMBA
SPONSOR BY LOMBA CAA

Sabtu, 10 September 2011

UNIVERSITAS TERBAIK DI DUNIA

Inilah Daftar 100 Perguruan Tinggi Paling Top Dunia 2009 [UI Urutan 201 | UGM Urutan 250]

Inilah rilis terbaru update daftar 100 Universitas paling TOP sejagat tahun 2009 yang baru saja dirilis dan diolah datanya oleh QS Quacquarelli Symonds Limited yang dikutip ruanghati.com, QS Limited setiap tahun mengupdate data ranking Universitas paling top sedunia, sebanyak 600 Universitas paling TOP di dunia di ranking, namun karena keterbatasan ruang, kami sajikan 100 ranking teratas.
100 universitas terbaik dunia
Yang menggembirakan walaupun tidak masuk urutan 100 besar namun ada beberapa perguruan tinggi Top Indonesia masuk di list yaitu Universitas Indonesia (UI) di ranking 201 dan Universitas Gajah Mada (UGM) di urutan 250, ITB (Institut Teknologi Bandung Rangking 351 dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Ranking 401 .Semoga dimasa mendatang ranking kita bisa lebih baik lagi. Rangking Berikutnya adalah:
100 universitas terbaik dunia 2009
Ranking 2009 Nama Universitas Negara

46 The Chinese University of HONG KONG Hong Kong
47= SEOUL National University Korea, South
47= University of NEW SOUTH WALES Australia
49= TSINGHUA University China
49= University of AMSTERDAM Netherlands
51 University of COPENHAGEN Denmark
52= NEW YORK University (nyu) United States
52= PEKING University China
54 BOSTON University United States
55= Technical University of MUNICH Germany
55= TOKYO Institute of Technology Japan
57 HEIDELBERG University Germany
58 University of WARWICK United Kingdom
59 University of ALBERTA Canada
60 LEIDEN University Netherlands
61= The University of AUCKLAND New Zealand
61= University of Wisconsin-madison United States
63= AARHUS University Denmark
63= University of Illinois at Urbana-Champaign (U of I) United States
65 Catholic University of LEUVEN Belgium
66 University of BIRMINGHAM United Kingdom
67= London School of Economics And Political… United Kingdom
67= LUND University Sweden
69 Kaist – Korea Advanced Institute of Scie… Korea, South
70= University of YORK United Kingdom
70= UTRECHT University Netherlands
72 University of GENEVA Switzerland
73= Nanyang Technological University (NTU) Singapore
73= WASHINGTON University In St. Louis United States
75 UPPSALA University Sweden
76= University of CALIFORNIA, San Diego United States
76= University of TEXAS At Austin United States
78 University of NORTH CAROLINA United States
79 University of GLASGOW United Kingdom
80 University of WASHINGTON United States
81 University of ADELAIDE Australia
82 University of SHEFFIELD United Kingdom
83 DELFT University of Technology Netherlands
84 University of WESTERN AUSTRALIA Australia
85 DARTMOUTH College United States
86 GEORGIA Institute of Technology United States
87= PURDUE University United States
87= University of ST ANDREWS United Kingdom
89 University College DUBLIN Ireland
90 EMORY University United States
91 University of NOTTINGHAM United Kingdom
92= NAGOYA University Japan
92= University of ZURICH Switzerland
94 Free University of BERLIN Germany
95= NATIONAL TAIWAN University (NTU) Taiwan
95= University of SOUTHAMPTON United Kingdom
97 TOHOKU University Japan
98 Ludwig Maximilian – University of MUNICH… Germany
99 University of LEEDS United Kingdom
100 RICE University United States
2009 rank School Name Country

201= Queen’s University of BELFAST United Kingdom
201= University of FLORIDA United States
201= University of INDONESIA Indonesia
250 GADJAH MADA University Indonesia
351 Bandung Institute of Technology Indonesia
401 Airlangga University Indonesia
501 (9) BOGOR Agricultural University Indonesia